|
|
Alkitab dan Ilmu Pengetahuan
Dalam anggapan orang-orang dunia, Alkitab itu sudah kuno,
ketinggalan dan mubazir; sedang ilmu pengetahuan itulah yang baru dan modern.
Sampai-sampai orang yang buta ilmu pengetahuanpun menyanjung-nyanjung ilmu
pengetahuan dan meremehkan Alkitab. Tetapi kalau kita bertanya kepada
orang-orang yang meremehkan Alkitab itu, "Kitab Wahyu ataukah kitab Kejadian
yang terletak di bagian paling depan dalam Alkitab?" Ternyata mereka tergagap,
tidak dapat menjawab. Mereka meremehkan Alkitab dan menghargai ilmu pengetahuan,
tetapi sebenarnya terhadap Alkitab maupun terhadap ilmu pengetahuan mereka masih
buta.
Sasaran ilmu pengetahuan tak lain adalah benda-benda ciptaan Allah di
dalam alam semesta, sedangkan pengarang Alkitab justru adalah Pencipta alam
semesta itu sendiri. Jadi, hasil yang dicapai oleh ilmu pengetahuan dan wahyu
yang diberikan oleh Allah di dalam Alkitab, pasti tidak mungkin berselisih atau
tidak masuk akal. Bila kita ingin menelaah Alkitab secara ilmiah, syarat utama
yang harus kita patuhi ialah kita harus membuktikan kebenaran-kebenaran Alkitab
itu dengan dalil ilmu pengetahuan yang stabil, bukan dengan jalan mencela atau
mendongkel dengan hipotesis-hipotesis. Hipotesis-hipotesis itu sendiri masih
merupakan dugaan yang kebenarannya mengandung tanda tanya besar, bagaimana
mungkin bisa kita pergunakan untuk menelaah Alkitab yang maha benar itu?
Dalam Alkitab tercantum, "Langit dan bumi akan lenyap, tetapi Firman
Allah itu kekal." Faktanya, kata-kata ini memang sedikitpun tidak salah. Semua
rumus dan dalil ilmu pengetahuan modern tidak ada satu pun yang berselisih
dengan Alkitab, bahkan sebaliknya semua teori dan hipotesis yang tidak sesuai
dengan kebenaran Alkitab, cepat atau lambat pasti akan terbantah dan terbuang.
Karena itu, bila ada orang mengatakan bahwa Alkitab itu tidak sesuai dengan ilmu
pengetahuan, tahulah kita, bahwa orang itu masih terlalu dangkal ilmunya, dan
terlalu picik pengetahuannya. Hal demikian tentu bukan tanggungjawab Alkitab.
Sekarang marilah kita, ketengahkan beberapa contoh:
Fakta Bulatnya Bumi Menurut anggapan orang-orang Yunani
kuno, langit adalah suatu tutup bulat, sedang bumi adalah dataran yang di
tengah-tengahnya berdiri suatu makhluk raksasa yang disebut "Atlas", tangannya
menahan langit sehingga langit tidak runtuh. Orang-orang India kuno menganggap
bumi itu persegi, yang pada keempat sudutnya masing-masing ada seekor buaya
raksasa yang memanggulnya sambil mengapungkan diri dipermukaan laut alam
semesta. Dongeng China kuno mengatakan, langit bulat, bumi datar yang
permukaannya miring, sehingga timbullah istilah Phei (utara) yang artinya 'atas'
dan Nhan (selatan) yang artinya 'bawah'. Sekarang kita tahu bahwa semua anggapan
itu tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan. Seandainya Alkitab juga menuliskan
secara demikian, tentu akan ditertawakan dan dicemooh oleh orang-orang kafir.
Setelah 400 tahun lebih kemudian, sewaktu Columbus menemukan satu benua
besar yang baru, barulah terbukti bumi itu bulat, dan segera fakta ini menjadi
pembicaraan orang banyak. Tetapi lebih dari 2.500 tahun yang lampau, Alkitab
sudah mengatakan bahwa bumi itu bulat (Yesaya 40:22), pula menggantung dalam
kehampaan (Ayub 26:7).
Dalam FirmanNya, Tuhan Yesus dengan tidak langsung juga menyiratkan
bahwa bumi itu bulat. Ini diungkapkan berkenaan dengan waktu kedatanganNya untuk
kedua kalinya. Tuhan Yesus tidak hanya mengatakan bahwa Dia akan datang pada
pagi hari atau siang hari, juga mengatakan pada malam hari. Tuhan Yesus tahu,
kalau Dia mengatakan bahwa Ia akan datang pada waktu satu macam saja (Pagi,
siang atau malam), maka bila waktu itu disesuaikan dengan waktu-waktu setempat
di penjuru bumi tentu perkataan Tuhan tidak tepat Bukankah waktu-waktu di banyak
tempat tidak sama. Malam di belahan bumi barat, siang di belahan bumi timur.
Tuhan mengatakan, "...ada dua orang di atas satu tempat tidur, ... ada dua orang
perempuan bersama-sama mengilang, ... ada dua orang di ladang" (Lukas 17:34-36).
Kalimat pertama jelas menunjukkan waktu malam, yaitu waktu tidur. Kalimat kedua
menunjukkan waktu pagi dan malam, karena menurut kebiasaan di negara timur,
wanita-wanita itu mengilang di waktu pagi dan malam. Sedang kalimat ketiga
menunjukkan waktu siang, yaitu sewaktu petani bekerja di ladang. Ini jelas
mengungkapkan bahwa bumi itu bulat, karena ketika Tuhan datang untuk kedua
kalinya, pada belahan bumi yang satu siang, dan pada belahan bumi yang lainnya
malam, sedang pada sisi-sisi masing-masing belahan fajar atau senja.
Allah Membentang Utara di Atas Kokosongan (Ayub 26:7) Untuk
beberapa tahun lamanya astronom merasa kewalahan menghadapi persoalan ini,
setelah tercipta sebuah teleskop yang berukuran 200 inci, sehingga bagian utara
itu terjangkau untuk penyelidikan, barulah terbukti bahwa apa yang tertulis di
dalam Ayub pasal 26:7 ini sama sekali tidak salah.
Manusia Bisa Menggunakan Arus Listrik Allah bertanya kepada
Ayub, "Dapatkah engkau melepaskan kilat, sehingga sambung-menyabung, sambil
berkata kepadamu: ya?" (Ayub 38:35). Pada zaman Ayub, siapakah bisa berpikir
bahwa dengan arus listrik manusia bisa menyampaikan berita? Kini, bila kita
menemui urusan penting yang ingin segera kita sampaikan kepada seseorang di
tempat yang jauh, kita bisa menggunakan kawat (telegram). Kalau dengan kawat
masih kurang cepat bisa dengan telepon. Ke tempat mana saja di dunia ini kita
bisa saling berhubungan dengan peralatan telepon. Empat ribu tahun yang lampau,
Alkitab sudah bisa menyiratkan bahwa dunia akan mengalami zaman 'arus listrik'.
Kalau bukan Alkitab yang adalah ahli nubuat ilmu pengetahuan, siapa lagi yang
bisa!
Timbangan/kekuatan angin (Ayub 28:05) Terhadap udara
(angin), dulu orang menganggapnya sebagai benda tak berguna, tak perlu
membicarakan mengenai besar, kecil dan berat ringannya.
Sampai ratusan tahun kemudian, seorang ahli ilmu pengetahuan, Galileo,
mengatakan, udara itu mempunyai berat, dan merupakan suatu zat yang bisa diukur.
Tapi jauh sebelumnya, yaitu 4.000 tahun lebih yang lampau, Alkitab jelas
menyatakan bahwa angin mempunyai berat, angin (udara) itu merupakan suatu zat
yang bisa diukur berat ringannya.
Penemuan Baru Manusia Sering Berubah Pada tahuh 1804, para
sarjana mengatakan, "molekul" adalah kesatuan terkecil dari suatu benda. Tak
lama kemudian dikatakan, "atom" baru merupakan kesatuan terkecil suatu benda.
Sampai tahun, 1898, setelah ditemukannya elektron, dikatakan bahwa elektron
itulah kesatuan benda yang terkecil. Kemudian setelah tenaga nuklir ditemukan
tahun 1919, barulah mereka tahu bahwa benda itu merupakan gabungan dari daya.
Dan satu pon benda bisa dipecah menjadi 11,4 miliyar daya listrik. Penemuan
inilah yang baru sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Alkitab, "Alam semesta
telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi
dari apa yang tidak dapat kita lihat." (Ibrani 11:3)
Hukum: Benda Tidak Mungkin Bisa Lenyap Dulu para ahli
'membuktikan' bahwa sesuatu benda bisa saja berubah, tetapi kadarnya tidak
mungkin bertambah atau berkurang, lebih-lebih tidak mungkin lenyap, karena itu
ditentukanlah hukum yang menyatakan bahwa benda tidak mungkin lenyap. Tetapi
sejak diketemukannya tenaga nuklir, terbuktilah bahwa benda-benda itu bisa
lenyap sama sekali, lalu berubah menjadi panas cahaya. Dari benda yang
mempunyali berat menjadi daya yang tiada berat. Dari benda yang memakan ruangan
menjadi panas dan cahaya yang tidak memakan ruangan. Fakta ini sudah dijelaskan
oleh Alkitab semenjak beribu-ribu tahun yang lampau.
Dulu, penulis sendiri percaya secara membabi-buta terhadap ilmu
pengetahuan dan tidak percaya hal-hal ketuhanan. Dengan tekun mendalami ilmu,
memang ada sedikit hasil, tetapi akhirnya sadar bahwa ilmu pengetahuan bukan
serba bisa. Alasannya:
- Ilmu pengetahuan tidak mungkin menciptakan hayat (kehidupan).
- Ilmu pengetahuan tidak mungkin mengubah budi pekerti manusia dan tidak
mungkin menolong manusia menghindarkan/menyingkirkan kelakuan dosa.
- Ilmu
pengetahuan sama sekali buta terhadap: penderitaan batin, keselamatan jiwa, mati
kekal, hidup kekal dan segala sesuatu yang berkenaan dengan dunia rohani.
-
Buku-buku ilmu pengetahuan harus sering mengalami pembetulan karena adanya
kesalahan-kesalahan, untuk kemudian dicetak ulang dan diterbitkan kembali.
Karena itu, saya lalu mendalami hal ketuhanan. Setelah tiga tahun, saya sadar:
Bila Alkitab itu ditulis berdasarkan pikiran manusia, bagaimana mungkin bisa,
begitu cermat, dan sedikit pun tidak ada kelemahan ilmiahnya. Meskipun Alkitab
itu ditulis jauh sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan, namun tidak pernah
ditemukan satupun perkara yang tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan. Ini tidak
lain karena Alkitab adalah wahyu Allah.
Pembaca yang kekasih, Alkitab bisa membuat Anda mempunyai hikmat
keselamatan. Allah pernah berjanji, "Yang mencari akan mendapat, Yang meminta
akan diberi, yang mengetuk pintu akan dibukakan pintu." Kiranya Anda mau
membuang segala macam perselisihan pendapat, dan mau menerima Tuhan Yesus
sebagai Juruselamat Anda, seperti yang disaksikan oleh Alkitab.
|