jaringan
kontak
update: Dec 2008
admin(@)pemulihan.or.id

Kerjasama dengan:
jad.net

Alkitab dan Ilmu Pengetahuan

Dalam anggapan orang-orang dunia, Alkitab itu sudah kuno, ketinggalan dan mubazir; sedang ilmu pengetahuan itulah yang baru dan modern. Sampai-sampai orang yang buta ilmu pengetahuanpun menyanjung-nyanjung ilmu pengetahuan dan meremehkan Alkitab. Tetapi kalau kita bertanya kepada orang-orang yang meremehkan Alkitab itu, "Kitab Wahyu ataukah kitab Kejadian yang terletak di bagian paling depan dalam Alkitab?" Ternyata mereka tergagap, tidak dapat menjawab. Mereka meremehkan Alkitab dan menghargai ilmu pengetahuan, tetapi sebenarnya terhadap Alkitab maupun terhadap ilmu pengetahuan mereka masih buta.

Sasaran ilmu pengetahuan tak lain adalah benda-benda ciptaan Allah di dalam alam semesta, sedangkan pengarang Alkitab justru adalah Pencipta alam semesta itu sendiri. Jadi, hasil yang dicapai oleh ilmu pengetahuan dan wahyu yang diberikan oleh Allah di dalam Alkitab, pasti tidak mungkin berselisih atau tidak masuk akal. Bila kita ingin menelaah Alkitab secara ilmiah, syarat utama yang harus kita patuhi ialah kita harus membuktikan kebenaran-kebenaran Alkitab itu dengan dalil ilmu pengetahuan yang stabil, bukan dengan jalan mencela atau mendongkel dengan hipotesis-hipotesis. Hipotesis-hipotesis itu sendiri masih merupakan dugaan yang kebenarannya mengandung tanda tanya besar, bagaimana mungkin bisa kita pergunakan untuk menelaah Alkitab yang maha benar itu?

Dalam Alkitab tercantum, "Langit dan bumi akan lenyap, tetapi Firman Allah itu kekal." Faktanya, kata-kata ini memang sedikitpun tidak salah. Semua rumus dan dalil ilmu pengetahuan modern tidak ada satu pun yang berselisih dengan Alkitab, bahkan sebaliknya semua teori dan hipotesis yang tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab, cepat atau lambat pasti akan terbantah dan terbuang. Karena itu, bila ada orang mengatakan bahwa Alkitab itu tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan, tahulah kita, bahwa orang itu masih terlalu dangkal ilmunya, dan terlalu picik pengetahuannya. Hal demikian tentu bukan tanggungjawab Alkitab. Sekarang marilah kita, ketengahkan beberapa contoh:

Fakta Bulatnya Bumi
Menurut anggapan orang-orang Yunani kuno, langit adalah suatu tutup bulat, sedang bumi adalah dataran yang di tengah-tengahnya berdiri suatu makhluk raksasa yang disebut "Atlas", tangannya menahan langit sehingga langit tidak runtuh. Orang-orang India kuno menganggap bumi itu persegi, yang pada keempat sudutnya masing-masing ada seekor buaya raksasa yang memanggulnya sambil mengapungkan diri dipermukaan laut alam semesta. Dongeng China kuno mengatakan, langit bulat, bumi datar yang permukaannya miring, sehingga timbullah istilah Phei (utara) yang artinya 'atas' dan Nhan (selatan) yang artinya 'bawah'. Sekarang kita tahu bahwa semua anggapan itu tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan. Seandainya Alkitab juga menuliskan secara demikian, tentu akan ditertawakan dan dicemooh oleh orang-orang kafir.

Setelah 400 tahun lebih kemudian, sewaktu Columbus menemukan satu benua besar yang baru, barulah terbukti bumi itu bulat, dan segera fakta ini menjadi pembicaraan orang banyak. Tetapi lebih dari 2.500 tahun yang lampau, Alkitab sudah mengatakan bahwa bumi itu bulat (Yesaya 40:22), pula menggantung dalam kehampaan (Ayub 26:7).

Dalam FirmanNya, Tuhan Yesus dengan tidak langsung juga menyiratkan bahwa bumi itu bulat. Ini diungkapkan berkenaan dengan waktu kedatanganNya untuk kedua kalinya. Tuhan Yesus tidak hanya mengatakan bahwa Dia akan datang pada pagi hari atau siang hari, juga mengatakan pada malam hari. Tuhan Yesus tahu, kalau Dia mengatakan bahwa Ia akan datang pada waktu satu macam saja (Pagi, siang atau malam), maka bila waktu itu disesuaikan dengan waktu-waktu setempat di penjuru bumi tentu perkataan Tuhan tidak tepat Bukankah waktu-waktu di banyak tempat tidak sama. Malam di belahan bumi barat, siang di belahan bumi timur. Tuhan mengatakan, "...ada dua orang di atas satu tempat tidur, ... ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, ... ada dua orang di ladang" (Lukas 17:34-36). Kalimat pertama jelas menunjukkan waktu malam, yaitu waktu tidur. Kalimat kedua menunjukkan waktu pagi dan malam, karena menurut kebiasaan di negara timur, wanita-wanita itu mengilang di waktu pagi dan malam. Sedang kalimat ketiga menunjukkan waktu siang, yaitu sewaktu petani bekerja di ladang. Ini jelas mengungkapkan bahwa bumi itu bulat, karena ketika Tuhan datang untuk kedua kalinya, pada belahan bumi yang satu siang, dan pada belahan bumi yang lainnya malam, sedang pada sisi-sisi masing-masing belahan fajar atau senja.

Allah Membentang Utara di Atas Kokosongan (Ayub 26:7)
Untuk beberapa tahun lamanya astronom merasa kewalahan menghadapi persoalan ini, setelah tercipta sebuah teleskop yang berukuran 200 inci, sehingga bagian utara itu terjangkau untuk penyelidikan, barulah terbukti bahwa apa yang tertulis di dalam Ayub pasal 26:7 ini sama sekali tidak salah.

Manusia Bisa Menggunakan Arus Listrik
Allah bertanya kepada Ayub, "Dapatkah engkau melepaskan kilat, sehingga sambung-menyabung, sambil berkata kepadamu: ya?" (Ayub 38:35). Pada zaman Ayub, siapakah bisa berpikir bahwa dengan arus listrik manusia bisa menyampaikan berita? Kini, bila kita menemui urusan penting yang ingin segera kita sampaikan kepada seseorang di tempat yang jauh, kita bisa menggunakan kawat (telegram). Kalau dengan kawat masih kurang cepat bisa dengan telepon. Ke tempat mana saja di dunia ini kita bisa saling berhubungan dengan peralatan telepon. Empat ribu tahun yang lampau, Alkitab sudah bisa menyiratkan bahwa dunia akan mengalami zaman 'arus listrik'. Kalau bukan Alkitab yang adalah ahli nubuat ilmu pengetahuan, siapa lagi yang bisa!

Timbangan/kekuatan angin (Ayub 28:05)
Terhadap udara (angin), dulu orang menganggapnya sebagai benda tak berguna, tak perlu membicarakan mengenai besar, kecil dan berat ringannya.

Sampai ratusan tahun kemudian, seorang ahli ilmu pengetahuan, Galileo, mengatakan, udara itu mempunyai berat, dan merupakan suatu zat yang bisa diukur. Tapi jauh sebelumnya, yaitu 4.000 tahun lebih yang lampau, Alkitab jelas menyatakan bahwa angin mempunyai berat, angin (udara) itu merupakan suatu zat yang bisa diukur berat ringannya.

Penemuan Baru Manusia Sering Berubah
Pada tahuh 1804, para sarjana mengatakan, "molekul" adalah kesatuan terkecil dari suatu benda. Tak lama kemudian dikatakan, "atom" baru merupakan kesatuan terkecil suatu benda. Sampai tahun, 1898, setelah ditemukannya elektron, dikatakan bahwa elektron itulah kesatuan benda yang terkecil. Kemudian setelah tenaga nuklir ditemukan tahun 1919, barulah mereka tahu bahwa benda itu merupakan gabungan dari daya. Dan satu pon benda bisa dipecah menjadi 11,4 miliyar daya listrik. Penemuan inilah yang baru sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Alkitab, "Alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat." (Ibrani 11:3)

Hukum: Benda Tidak Mungkin Bisa Lenyap
Dulu para ahli 'membuktikan' bahwa sesuatu benda bisa saja berubah, tetapi kadarnya tidak mungkin bertambah atau berkurang, lebih-lebih tidak mungkin lenyap, karena itu ditentukanlah hukum yang menyatakan bahwa benda tidak mungkin lenyap. Tetapi sejak diketemukannya tenaga nuklir, terbuktilah bahwa benda-benda itu bisa lenyap sama sekali, lalu berubah menjadi panas cahaya. Dari benda yang mempunyali berat menjadi daya yang tiada berat. Dari benda yang memakan ruangan menjadi panas dan cahaya yang tidak memakan ruangan. Fakta ini sudah dijelaskan oleh Alkitab semenjak beribu-ribu tahun yang lampau.

Dulu, penulis sendiri percaya secara membabi-buta terhadap ilmu pengetahuan dan tidak percaya hal-hal ketuhanan. Dengan tekun mendalami ilmu, memang ada sedikit hasil, tetapi akhirnya sadar bahwa ilmu pengetahuan bukan serba bisa. Alasannya:

  1. Ilmu pengetahuan tidak mungkin menciptakan hayat (kehidupan).
  2. Ilmu pengetahuan tidak mungkin mengubah budi pekerti manusia dan tidak mungkin menolong manusia menghindarkan/menyingkirkan kelakuan dosa.
  3. Ilmu pengetahuan sama sekali buta terhadap: penderitaan batin, keselamatan jiwa, mati kekal, hidup kekal dan segala sesuatu yang berkenaan dengan dunia rohani.
  4. Buku-buku ilmu pengetahuan harus sering mengalami pembetulan karena adanya kesalahan-kesalahan, untuk kemudian dicetak ulang dan diterbitkan kembali.

Karena itu, saya lalu mendalami hal ketuhanan. Setelah tiga tahun, saya sadar: Bila Alkitab itu ditulis berdasarkan pikiran manusia, bagaimana mungkin bisa, begitu cermat, dan sedikit pun tidak ada kelemahan ilmiahnya. Meskipun Alkitab itu ditulis jauh sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan, namun tidak pernah ditemukan satupun perkara yang tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan. Ini tidak lain karena Alkitab adalah wahyu Allah.

Pembaca yang kekasih, Alkitab bisa membuat Anda mempunyai hikmat keselamatan. Allah pernah berjanji, "Yang mencari akan mendapat, Yang meminta akan diberi, yang mengetuk pintu akan dibukakan pintu." Kiranya Anda mau membuang segala macam perselisihan pendapat, dan mau menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat Anda, seperti yang disaksikan oleh Alkitab.