|
|
PENYAKIT Watchman Nee
Matius 8:17b Dialah yang memikul kelemahan kita dan
menanggung penyakit kita
Mazmur 103:3 Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang
menyembuhkan segala penyakitmu
Mengenai masalah penyakit, ada beberapa hal yang perlu kita bahas di
hadapan Allah.
1. HUBUNGAN ANTARA PENYAKIT DENGAN DOSA Sebelum manusia
berdosa, manusia tidak mempunyai penyakit; manusia tidak sakit. Tetapi setelah
manusia berdosa, barulah ada penyakit. Karena itu, secara umum boleh dikatakan
bahwa, penyakit sama dengan kematian, yakni berasal dari dosa. Oleh karena
seorang berdosa, maka dosa dan maut masuk ke dalam dunia, sebagaimana maut telah
menimpa semua orang karena dosa, demikian pula penyakit telah menimpa semua
orang karena dosa. Walaupun semua orang tidak melakukan dosa seperti yang
dilakukan Adam, namun karena Adam telah berbuat dosa, maka semua orang pun
seperti Adam -- Mati. Setelah ada dosa, ada kematian. Di antara dosa dengan
kematian terdapat satu benda yang kita sebut penyakit. Inilah asal-usul penyakit
pada umumnya.
Tetapi ketika penyakit menghinggapi diri seseorang, ia mempunyai dua
penyebab yang berbeda. Pertama penyakit berasal dari dosa; kedua, penyakit bukan
berasal dari dosa. Jadi ada semacam penyakit yang bukan berasal dari dosa. Kedua
penyebab tersebut harus kita pisahkan. Tanpa dosa, pasti tidak akan ada
penyakit sama dengan tanpa dosa, takkan ada kematian. Jika dalam dunia tiada
kematian, penyakit pun tidak mungkin ada. Karena ada dosa, timbullah kematian;
karena ada kematian, timbullah penyakit. Akan tetapi pada pribadi seseorang,
banyak yang sakitnya karena berdosa banyak pula yang sakitnya bukan karena
berdosa. Itulah sebabnya kita harus memisahkan dengan jelas masalah hubungan
penyakit seeorang dengan dosa secara individual, dan hubungan penyakit umat
manusia dengan dosa secara umum.
1. Karena Manusia Berdosa Kepada Allah
Dalam Perjanjian Lama (kitab Imamat dan Bilangan dapat kita baca, apabila
bani Israel mau menaati Allah, menempuh jalan Allah, tidak mengingkari hukum
Taurat Allah dan tidak berdosa, maka Allah akan melindungi mereka, agar mereka
terhindar dari berbagai penyakit. Dalam kitab-kitab itu Allah memperlihatkan
kepada, kita dengan jelas, bahwa banyak penyakit berasal dari pengingkaran
terhadap Tuhan dan perbuatan dosa.
Sampai Perjanjian baru, kita pun nampak adanya orang sakit yang
disebabkan karena berdosa. Paulus mengatakan, ada orang telah berdosa dan ia
akan menyerahkan tubuhnya kepada Iblis (I Kor. 5:4-5). Inipun jelas menunjukkan,
bahwa sakit berasal dari dosa. Kalau ringan itulah sakit, kalau berat itulah
kematian. Menurut II Korintus 7:9-10, Paulus menyuruh orang itu sakit, bukan
menyuruhnya mati. Karena akhirnya ia menyesal dengan menghasilkan pertobatan
yang tidak disesalkan. Paulus mengatakan orang itu harus diampuni (II Kor.
2:6-7). I Korintus mengatakan tubuh orang itu harus diserahkan kepada Iblis,
bukan nyawanya. Dan ini berarti menyuruh dia sakit, bukan mati. Maka jelaslah
bahwa penyakitnya berasal dari dosa.
Paulus juga menyatakan kepada kita, bahwa ada beberapa orang di gereja
Korintus yang karena makan roti dan minum cawan Tuhan tanpa mengakui tubuh
Tuhan, sehingga mereka lemah dan sakit, dan tidak sedikit pula yang meninggal (I
Kor. 11:29-30). Ini membuktikan bahwa penyakit mereka disebabkan mengingkari
Tuhan.
Kita mempunyai dasar Alkitab yang cukup jelas untuk membuktikan
kebanyakan orang, (bukan semua orang), yang sakitnya disebabkan karena telah
berbuat dosa. Maka, tatkala seseorang jatuh sakit, hal pertama yang harus
diselidiki ialah apakah ia berdosa terhadap Allah. Banyak orang dapat
mengetahui, bahwa penyakitnya itu dikarenakan berdosa terhadap Allah.
Di antara saudara dan saudari yang kukenal dan kuketahui, aku dapat
mengetengahkan, ada lebih dari seratus orang yang dari penyelidikan mereka
sendiri di hadapan Tuhan membuktikan, bahwa hampir semua penyakit mereka
disebabkan karena berdosa; yaltu mereka pernah satu kali mengingkari Tuhan,
atau mengabaikan Firman Tuhan, atau salah jalan. Setelah mereka menemukan dosa
itu dan mengaku dosa, penyakit mereka pun lenyaplah. Banyak saudara-saudari yang
mempunyai pengalaman demikian, aku sendiri pun mempunyai banyak pengalaman yang
serupa. Penyakit anda akan segera lenyap, bila dihadapan Allah anda telah
menemukan penyebabnya. Hal ini tidak dapat diinterpretasikan melalui ilmu
kedokteran.
Tidak semua penyakit pasti berasal dari dosa, tapi kebanyakan memang
berasal dari dosa. Ditinjau dari penyakit itu sendiri, ia, sama dengan kematian,
yaitu berasal dari dosa. Akan tetapi, penyakit yang diderita seseorang secara
individual belum tentu berasal dari dosa, walaupun seringkali juga berasal dari
dosa. Harus kita akui, bahwa memang banyak penyakit yang dapat kita temukan
melalui penyebab alamiah, namun janganlah kita mengira bahwa semua penyakit itu
berasal dari penyebab alamiah.
Kita wajib mengakui, seringkali orang menderita sakit, yang jelas
sekali disebabkan di dalamnya terdapat dosa. Aku, teringat akan seorang saudara
yang menjadi dosen di fakultas kedokteran, universitas Chungking di Shanghai.
Ketika ia memberi kuliah, ia pernah mengatakan, bahwa banyak sekali penyakit
yang diketemukan penyebab alamiahnya. MisaInya dari bakteri-bakteri
staphylokokken, streptokokken atau pneumokokken. Sejenis bakteri saja dapat
menimbulkan beberapa macam penyakit. Maka dari beberapa jenis bakteri dapat pula
menyebabkan berbagai macam penyakit. Sebagai seorang dokter, tentu saja ia dapat
mengetahui dari bakteri mana suatu penyakit berasal. Tetapi ia tak dapat
memastikan apa sebabnya sejenis bakteri tertentu tidak bisa menulari orang ini,
namun bisa menulari orang itu.
Misalkan ada sepuluh orang bersama-sama tinggal dalam sebuah ruangan,
dan mereka semua telah berhubungan dengan sejenis bakteri, akhirnya, orang yang
bertubuh baik malahan yang ketularan, sedangkan yang tubuhnya tidak baik tidak
ketularan. Secara logika, orang yang tubuhnya tidak baiklah yang mudah
ketularan, sedangkan yang tubuhnya baik tidak mudah ketularan. Namun pada
faktanya adalah berkebalikan. Mungkin juga orang yang memenuhi syarat tidak
ketularan, sedangkan yang tidak memenuhi syarat yang ketularan. Ini sungguh tak
dapat kita interpretasikan! Saudara itu mengakui, bahwa di luar faktor alamiah,
masih terdapat faktor pengendalian Allah. Kukira inilah suatu ungkapan yang
sangat indah. Seringkali walaupun berbagai usaha preventif telah tersedia
sedemikian lengkap, namun tetap saja manusia bisa terjangkit penyakit tersebut.
Aku, masih ingat pula, ada seorang teman sekolahku pernah mengatakan,
ketika ia belajar di fakultas kedokteran, ada seorang guru besar yang sangat
pandai, namun ia seorang pemarah. Ketika ia mengadakan ujian, pertanyaannya
selalu sangat sederhana. Pernah sekali ia mengeluarkan satu pertanyaan yang
sangat sederhana, namun banyak yang tak dapat menjawab. Pertanyaannya, apa
sebabnya orang bisa menderita penyakit tuberkulosa/TBC ? Kebanyakan murid
menjawab, karena ada kuman-kuman tuberkulosa. Setiap murid yang menjawab
demikian, semua diberi tanda X. la Ialu bertanya, dunia ini penuh dengan kuman
TBC, bila demikian bukankah semua manusia akan menderita penyakit TBC ? Kemudian
dijelaskannya, bahwa kuman-kuman TBC hanya dalam persyaratan yang cocok baru
bisa menyebabkan penyakit TBC, bukan hanya karena ada kuman TBC aaja.
Murid-murid mengira asal ada kuman pasti ada penyakit, padahal harus ada kondisi
yang cocok, barulah ia bisa menjadi penyakit. Demikian pula penyakit pada diri
seorang Kristen. Meskipun dalam dunia terdapat banyak alasan alamiah, tetapi
hanya di bawah persyaratan yang cocok barulah Allah mengizinkan penyakit itu
terjadi, dan orang Kristen bisa menderita sakit. Jika tidak dalam persyaratan
yang cocok, Allah pun takkan mengizinkan hal itu terjadi.
2. Banyak Penyakit yang Harus Mohon Pengampunan Dulu, Baru Mohon
Penyembuhan Kita mutlak percaya akan adanya penyebab penyakit dari aspek
alamiah, karena kita memiliki alasan dan dasar ilmiah yang cukup untuk
membenarkan penyebab-penyebab alamiah tersebut. Akan tetapi kita pun mengakui,
banyak penyakit yang diderita anak-anak Allah yang sesungguhnya disebabkan
karena dosa; ya, karena mereka berdosa terhadap Allah. Seperti yang tercantum
pada I Korintus 11. Maka, lebih baik anda mohon pengampunan dulu, daripada mohon
penyembuhan kepada Allah. Jadi, anda harus minta diampuni dulu, kemudian baru
minta disembuhkan.
Kadangkala begitu kita jatuh sakit, kita segera dapat menemukan dalam
hal manakah kita telah berdosa terhadap Tuhan, dalam hal apa kita tidak
mematuhiNya, atau dalam hal apa kita tidak menuruti firmanNya. Setelah anda
berdoa dan menemukan dosa itu, penyakit anda pun segera sembuh. Aku pernah
melihat banyak orang yang mengalami keadaan demikian. Begitu masalah di hadapan
Tuhan sudah beres, penyakitpun lenyap. Ini sungguh suatu perkara yang sangat
ajaib. Maka pertama-tama yang harus kita ketahui dengan jelas ialah, penyakit
itu berhubungan dengan dosa. Sebab pada umumnya penyakit berasal dari dosa, dan
secara perorangan, adakalanya penyakit juga berasal dari dosa.
II. PEKERJAAN TUHAN DAN PENYAKIT
1. Memikul Kelemahan Kita, Menanggung Penyakit Kita Yesaya
53:4,5 mengatakan, Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungNya
(Kristus) dan kesengsaraan kita yang dipikulNya, padahal kita mengira Dia kena
tulah, dipukul dan ditindas Allah, Dia diremukkan oleh karena kejahatan kita;
ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadaNya, dan oleh
bilur-bilurNya kita menjadi sembuh."
Yesaya 53 merupakan pasal yang paling banyak dikutip oleh kitab
Perjanjian Baru. Pasal ini khususnya membicarakan bagaimana Tuhan menjadi
Juruselamat kita. Ayat 4 itu, dalam Matius 8:17 mendapat terjemahan yang lain,
yaitu, "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita." Roh
Kudus menunjukkan kepada Matius, bahwa kedatangan Tuhan Yesus di dunia bertujuan
menjadi seorang manusia yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit
kita.
Kita perlu khusus memperhatikan, bahwa ketika Tuhan Yesus datang ke
bumi, sebelum mati di atas salib, Ia sudah menanggung kesengsaraan kita dan
memikul kelemahan kita. Ini berarti selagi Tuhan di bumi, Ia menganggap penyakit
sebagai tanggungan atau urusanNya. Maka tidak saja Ia memberitakan injil, Ia pun
menyembuhkan penyakit, menguatkan orang yang lemah, menyembuhkan tangan yang
mati, menahirkan orang sakit kusta, menyuruh orang lumpuh bangun dan pulang ke
rumahnya. Ya, di bumi ini Ia telah menyembuhkan berbagai macam penyakit. Tuhan
di bumi menganggap memberitakan Injil, melakukan mujizat, mengamalkan kebajikan
dan membina murid-murid sebagai pekerjaanNya, Ia pun menganggap menyembuhkan
penyakit dan mengusir setan sebagai pekerjaanNya. Kita wajib nampak, babwa
pekerjaan Tuhan juga bertujuan mengenyahkan penyakit-penyakit yang berasal dari
dosa. Kedatangan Tuhan Yesus di dunia adalah untuk membereskan dosa, maut dan
penyakit.
2. Mengampuni Kesalahan, Menyembuhkan Penyakit Ada sebuah
ayat yang sangat dikenal oleh anak-anak 1 Allah, akupan senang dan sering
membacanya -- Mazmur 103:2-3. Daud berseru, "Pujilah Tuhan, hai jiwaku Pujilah
namaNya yang kudus, hai segenap batinku!" Mengapa? "Pujilah Tuhan, hai jiwaku,
dan janganlah lupakan segala kebaikanNya!" Kebaikan apa? Ia menjelaskan, "Dia
yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu."
Aku ingin menampakkan kepada saudara saudari, bahwa penyakit mempunyai
dua pasangan, yang pertama maut, kedua dosa. Penyakit dengan maut merupakan
sejoli. Penyakit dan dosa merupakan seioli yang lain. Masalah penyakit
berpasangan dengan maut telah kita bahas di depan, yakni dosa mengakibatkan
maut; karena maut akan tiba, maka ada penyakit. Kedua hal tersebut merupakan
akibat. Sifat penyakit sama dengan kematian, keduanya berasal dari dosa. Melalui
Mazmur 103 kita nampak penyakit juga berpasangan dengan dosa. Daud mengatakan,
"Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu."
Karena jiwaku berdosa, maka tubuhku sakit. Tuhan membereskan dosa jiwaku, yakni
mengampuni dosa-dosa jiwaku, sehingga penyakit tubuhku pun disembuhkan.
Kesulitan tubuh, yaitu dalam batin terdapat dosa, sedang pada lahir terdapat
penyakit. Puji Tuhan, hari ini kedua kesulitan tersebut telah dihapuskanNya
bagi kita.
3. Pengampunan Dosa Sudah Sempurna, Penyembuhan Penyakit Ada
Batasnya Antara pengampunan dosa dengan penyembuhan penyakit terdapat
perbedaan yang mendasar. Tatkala Tuhan Yesus mati tersalib, Ia telah menanggung
dosa kita. Apakah ada satu dosa yang ketingalan yang tidak diampuni? Tidak!
Karena karya Allah sedemikian sempurna, sehingga seluruh dosa terhapus. Ketika
Tuhan Yesus masih hidup di atas bumi ini, Ia sudah menanggung penyakit dan
kelemahan kita. Akan tetapi, Ia tidak menghapus semua penyakit, Ia pun tidak
melenyapkan semua kelemahan. Paulus malahan berkata, "Jika aku lemah, maka aku
kuat" (II Kor. 12:10). Ia tidak berkata, "Jika aku berdosa, maka aku suci." Dari
sini kita nampak bahwa penghapusan dosa itu tuntas dan tak terbatas, tetapi
penyembuhan penyakit tidaklah tuntas dan tak terbatas. Maka kondisi penyakit
dalam penebusan Tuhan berbeda dengan dosa. Kalau dosa terhapus tanpa batas,
tetapi penyakit terhapus secara terbatas.
Timotius menderita kelemahan pada lambungnya. Tuhan membiarkan tubuhnya
menderita kelemahan itu, walau ia seorang hamba Tuhan. Dalam keselamatan dan
penebusan Tuhan, masalah dosa telah terhapus seluruhnya, tetapi masalah penyakit
tidak. Ada segolongan orang mengira pekerjaan Tuhan hanya membereskan dosa,
tidak membereskan penyakit; ada juga segolongan orang mengira ruang lingkup
pemberesan Tuhan atas dosa sama besarnya dengan pemberesanNya atas penyakit.
Akan tetapi pandangan kita tidak demikian. Alkitab dengan jelas menerangkan
kepada kita, bahwa pemberesan dosa dan penyakit sama-sama menjadi pekerjaan
Tuhan, hanya saja pemberesan dosa dilakukan tanpa batas, sedangkan pemberesan
penyakit terbatas. Anda wajib nampak, bahwa penanggulangan masalah dosa tidak
terbatas, yakni masalah dosa telah terbereskan seluruhnya. Anak domba Allah
menanggung dosa setiap orang; darahNya menghapus dosa seluruh manusia dunia.
Problem dosa telah dibereskan seluruhnya, tetapi problem penyakit masih terdapat
di antara anak-anak Allah.
Hari ini kita dapat memandang secara demikian di hadapan Allah:
Sebenarnya anak-anak Allah tak perlu menderita penyakit sekian banyak, sebab
Tuhan Yesus sesungguhnya telah menanggung penyakit kita. KedatanganNya ke dunia
sungguh mementingkan penyembuhan sakit. Walaupun di atas salib Tuhan tidak
menanggung penyakit kita secara menyeluruh, namun pekerjaanNya juga mencakup
penanggulangan penyakit. Kegenapan kitab Yesaya 53 terdapat pada Matius 8, bukan
Matius 27. Sebelum Ia terpancang di bukit Golgota, Ia sudah menanggung penyakit
kita. Itulah sebabnya masalah penyakit bukan tanpa batas seperti haInya masalah
dosa. Perbedaan itu sangatlah jelas.
4. Seyogyanya Mohon Kesembuhan Kaum imani menderita sakit
pasti ada sebab-musababnya. Banyak orang kehilangan kesempatan untuk beroleh
kesembuhan, mungkin karena mereka di hadapan Tuhan tidak nampak, bahwa Tuhan pun
menanggung penyakit mereka. Kecuali anda berkeyakinan seperti Paulus, yakni
setelah berdoa sekali, dua kali dan tiga kali lalu mengetahui bahwa
ketidaksembuhan penyakit anda bermanfaat bagi anda. Kalau tidak, lebih baik anda
mohon kesembuhan. Setelah berdoa tiga kali, Paulus menjadi jelas. Tuhan
menunjukkan kepadanya, bahwa baginya kelemahan lebih berfaedah daripada
kesembuhan, kasih karuniaNya cukup untuk dia, dan kelemahan justru lebih
menyatakan kekuatanNya. Karenanya, Paulus sudi menerima kelemahan tersebut.
Kalau seorang tidak nampak dengan jelas bahwa Allah menghendakinya menderita
suatu kelemahan atau penyakit, ia boleh sedapat-dapatnya memberanikan diri
memohon kepada Tuhan, agar Tuhan menanggung kelemahan dan penyakitnya, yakni
mohon kesembuhan.
Anak-anak Allah hidup di bumi bukan untuk menderita sakit, melainkan
untuk memuliakan Allah. Andaikata penyakit dapat memuliakan Allah, tentulah itu
perkara yang paling baik. Namun, kebanyakan penyakit tidak bisa memuliakan
Allah. Maka bila anda menderita sakit, anda harus belajar bersandar di hadapan
Allah, dan belajar mengenal Tuhan Yesus sebagai Penyelamat dan Penanggung
sakit. Ketika Tuhan di bumi, banyak orang sakit telah menerima kesembuhan
dariNya. Tuhan kemarin, hari ini dan selama-lamanya tetap sama, maka kita boleh
mohon kesembuhanNya. Kita boleh menyerahkan penyakit kita ke dalam tanganNya.
III. SIKAP KAUM IMANI TERHADAP PENYAKIT
1. Harus Terlebih Dulu Menemukan Penyebabnya Setiap kali
seorang Kristen jatuh sakit, wajiblah ia terlebih dulu mencari penyebab sakitnya
di hadapan Tuhan, ia tidak seharusnya terburu-buru memohon kesembuhan. Sekarang
kita akan membahas proses suatu penyakit. Begitu seseorang menderita sakit, hal
pertama yang wajib ia lakukan ialah mencari dan menemukan penyebab sakitnya.
Paulus menderita sakit, tetapi ia sendiri sangat jelas, inilah satu contoh yang
baik. Allah menghendaki kita mengetahui dengan jelas di mana dan apa penyebab
sakit kita itu. Kita wajib memeriksa diri, apakah kita telah mengingkari Tuhan?
Apakah kita berdosa? Apakah kita merugikan orang lain? Atau apakah kita
melanggar hukum alam? Ataupun mengabaikan perkara tertentu secara khusus? Kalian
harus ingat, seringkali kita melanggar hukum alam, padahal itu pun berarti
berbuat dosa terhadap Allah. Karena hukum-hukum itu ciptaan dan ketetapan Allah;
Allah justru mengatur alam semesta melalui hukum-hukum alam tersebut. Maka
penyakit kita pasti ada penyebabnya.
2. Tidak Seharusnya Tergesa-gesa Mencari Dokter Kebanyakan
orang begitu menderita sakit, Ialu takut sekali direnggut maut, maka mereka
segera pergi mencari dokter dan tergesa-gesa mengharapkan kesembuhan. Ini
bukanlah sikap yang sewajarnya dimiliki oleh orang Kristen. Jika kita menderita
sakit, kita harus terlebih dahulu menemukan penyebabnya.
Banyak saudara saudari yang tidak mempunyai kesabaran sedikit pun.
Begitu mereka sakit, hal pertama yang mereka lakukan ialah berusaha mendapatkan
kesembuhan, mereka segera mencari dokter. Karena kuatir nyawa yang berharga ini
akan melayang, maka disamping berdoa, memohon kesembuhan kepada Allah, juga
pergi mencari dokter agar dapat sembuh lewat injeksi atau minum obat-obatan.
Anda berbuat demikian karena anda takut, dan karena menyayangi nyawa sendiri.
Hal ini jelas membuktikan betapa anda dipenuhi oleh diri sendiri. Pada
waktu-waktu biasa anda sudah dipenuhi oleh diri sendiri, maka begitu sakit tiba,
anda buru-buru mencari kesembuhan, ini lebih membuktikan bahwa anda dipenuhi
diri sendiri. Tak mungkin kalau anda pada waktu-waktu biasa dipenuhi diri
sendiri, dan kalau sakit tiba tidak dipenuhi diri sendiri. Orang yang pada
waktu-waktu biasa dipenuhi diri sendiri, begitu ia jatuh sakit pastilah ia
merasa cemas, Ialu tergesa-gesa mencari kesembuhan.
3. Harus Terlebih Dulu Membereskan Masalah Di Hadapan Allah
Aku beritahu kalian, cemas dan tergesa-gesa tidak ada gunanya. Karena anda
milik Allah, dalam keadaan demikian, anda ingin beroleh kesembuhan tidaklah
begitu mudah. Meskipun kali ini anda beroleh kesembuhan, lain kali mungkin akan
sakit lagi, mungkin ada penyakit lain yang akan menimpa diri anda. Kita wajib
terlebih dulu membereskan masalah kita di hadapan Allah, kemudian baru kita
dapat membereskan masalah tubuh kita. Jika masalah di hadapan Allah belum beres
masalah tubuh pun tak dapat beres. Sebab itu, bila kita menderita sakit, kita
harus terlebih dulu menemukan penyebabnya, setelah itu barn mohon kesembuhan.
Anda wajib menerima pelajaran yang diberikan oleh penyakit, sekalipun menderita
sakit gawat, anda pun dapat membereskan masalahnya. Bila anda di hadapan Allah
dapat membereskannya, anda akan nampak Tulian pasti memberi penyelesaian kepada
anda dalam waktu yang sangat singkat.
Seringkali anda dapat menemukan adanya kesalahan atau dosa, iiulah
sebabnya anda jatub sakit. Karenanya anda wajib mengaku dosa di hadapan Allah,
mohon pengampunanNya, setelah itu barulah anda boleh mengharapkan kesembuhanNya.
Bila anda di hadapan Allah telah berjalan agak jauh, andapun akan nampak di sini
tidak saja terdapat masalah dosa, pun terdapat masalah serangan Iblis. Adakalanya
inipun merupakan masalah disiplin atau ganjaran Allah, yang bertujuan membuat
anda lebih kudus, lebih lemah-lembut dan lebih berserah serta patuh di hadapan
Allah. Banyak penyebab yang wajib anda bereskan satu persatu di hadapan Allah.
Tatkala anda melakukan pemberesan, anda akan jelas apa penyebab sebenarnya dari
penyakit yang anda derita itu. Adakalanya Allah pun membiarkan anda beroleh
bantuan alamiah, yaitu bantuan melalui obat-obatan. Tetapi adakalanya Allah
tidak membiarkan anda mendapatkan bantuan dari obat-obatan, karena Allah sanggup
menyembuhkan anda dalam sekejap waktu.
4. Belajar Menengadah Kepada Allah Sang Penyembuh Di sini
kita harus menyadari bahwa kesembuhan selalu ada di tangan Allah. Kita wajib
belajar menengadah/berharap kepada Sang Penyembuh, yaitu Allah sendiri. Dalam
Perjanjian Lama Allah mempunyai satu nama: "Aku, Tuhanlah yang menyembuhkan
engkau " (Kel.15:26). Nama Allah di sini berbentuk kata kerja, satu nama yang
istimewa. Maka kita harus belajar menengadah kepada Allah, Sang Penyembuh, Ia
pasti akan merahmati umatNya sendiri.
5. Minta Didoakan Dan Pengolesan Minyak Oleh Penatua Gereja
Setelah penyebab penyakit ditemukan, ada salah satu cara yang patut anda
lakukan, yaitu minta didoakan dan dioles dengan minyak oleh penatua gereja
(Yak. 5:14,15). Ini merupakan satu-satunya perintah dalam Alkitab bagi orang
Kristen yang menderita sakit --- "Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit,
baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta
mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan
menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia, dan jika ia telah
berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni."
Ketika anda menderita sakit dan ingin membereskannya di hadapan Allah,
di antaranya ada satu hal yang dapat anda lakukan, yakni memanggil para penatua
gereja, supaya mereka mendoakan dan mengoles anda dengan minyak. Hal tersebut
berarti membiarkan minyak Kepala -- Kristus -- mengalir ke atas anggota
tubuhNya, yaitu anda, sebab anda adalah sebagian dari tubuh. Ketika hayat
melewati tubuh anda, penyakit anda pun akan lenyap. Tujuan pengolesan minyak
ialah agar anda memperoleh minyak dari Kepala. Karena di sini anda mempunyai
problem pengingkaran, dosa atau problem lainnya, yang menyebabkan anda terpisah
dari perlindungan dan peredaran tubuh, maka anda harus memanggil para penatua
gereja untuk mengembalikan anda ke dalam peredaran tubuh, yaitu meletakkan anda
ke dalam tubuh Kristus, sehingga anda beroleh pengaliran hayat kembali.
Bila terjadi problem pada kedudukan anggota tubuh yang mana saja, hayat
tubuh itu akan terhambat pada bagian tersebut. Pengolesan minyak justru dapat
memulihkan aliran hayat itu. Karena itulah anda harus memanggil para penatua
gereja, mereka adalah wakil gereja, yaitu wakil tubuh lokal. Mereka akan
mewakili tubuh mengoles anda dengan minyak, agar minyak Kepala teralir kembali ke
atas anda, anggota tubuh yang telah macet ini. Menurut pengalaman kita,
pengolesan minyak tersebut dapat segera membangunkan orang yang menderita sakit
gawat sekalipun. Kita telah menyaksikan banyak orang yang menderita sakit, yang
menurut: pandangan manusia mustahil sembuh, namun Tuhan dapat memulihkannya
dengan cepat sekali, sehingga ia beroleh kesembuhan mutlak.
6. Beberapa Penyebab Lainnya Adakalanya kita dapat menemukan
adanya penyebab lain dari penyakit, yaitu sikap individualisme. Ingatlah,
individualisme sebenarnya merupakan penyebab terbesar dari penyakit seseorang.
Ada orang yang memiliki sikap individualisme, yakni berbuat sesuatu menurut
kemauan sendiri dan dilakukan sendiri. Kalau Allah mengganjarnya, ia akan segera
menderita sakit. Sebab suplaian tubuh tak dapat mengalir ke atas anggota tubuh
yang sedemikian. Jika inilah yang menjadi penyebab sakitnya, maka ia perlu
dialiri oleh suplaian tubuh.
Aku tak berani mengatakan bahwa masalah penyakit itu hanya sedemikian
sederhana, karena penyebab penyakit sangat banyak. Adakalanya dikarenakan anda
mengingkari perintah Tuhan, adakalanya dikarenakan anda tidak melakukan perkara
yang dikehendaki Tuhan, adakalanya dikarenakan anda berbuat dosa, dan adakalanya
pula disebabkan masalah individualisme ini. Memang ada orang yang bersikap
individualisme, tetapi Allah membiarkannya, tidak mengganjarnya. Namun banyak
orang, khususnya yang telah mengenal gereja, begitu mereka bersikap
individualisme, mereka segera menderita sakit. Orang yang tak mengenal gereja
malah jarang menderita sakit, tapi orang yang mengenal gereja, yakni yang lebih
banyak berhubungan dengan gereja, Tuhan akan menempatkan mereka pada suatu
kondisi tertentu, sehingga begitu mereka bersikap individualisme, Tuhan tidak
membiarkan mereka berlalu begitu saja, Ia akan mengganjar mereka.
Adakalanya mungkin anda telah mencemarkan tubuh anda. Barangsiapa yang
mencemarkan tubuh ini, akan merusak bait ini.
Karena banyaknya penyebab sakit, maka aku tak dapat memberikan satu
konsep kepada kalian. Aku hanya menunjukkan, bahwa penyakit pasti ada
penyebabnya. Boleh, jadi ada satu penyebab, namun boleh jadi pula ada banyak
penyebab. Bila anda telah menemukan penyebabnya, wajiblah anda mengakuinya satu
persatu di hadapan Tuhan. Setelah itu anda memanggil para pewajib gereja untuk
bersama-sama mengaku dosa dan berdoa di hadapan Allah, serta memohon mereka
mengoles anda dengan minyak, agar hayat tubuh terpulihkan. Begitu hayat mengalir
di atas tubuh anda, penyakit anda pun lenyaplah. Walaupun kita percaya adanya
penyebab alamiah, tetapi pada pihak lain, kita nampak bahwa perkara rohani
mengungguli perkara alamiah. Maka begitu kita membereskan yang rohani, penyakit
kitapun akan sembuh sama sekali.
IV. GANJARAN ALLAH DAN PENYAKIT
1. Ada Penyakit yang Mengandung Ganjaran Allah Ada satu
perkara yang sangat aneh, yaitu kalau orang kafir mudah beroleh kesembuhan,
tetapi orang Kristen tidak begitu mudah. Kitab Perjanjian Baru memperlihatkan
kepada kita, hampir setiap orang kafir segera mendapat kesembuhan bila, mereka
mencari Tuhan. Alkitab juga memperlihatkan kepada kita, adanya karunia
kesembuhan yang memungkinkan kita, menyembuhkan penyakit saudara maupun orang
kafir. Namun, Alkitab juga memperlihatkan kepada kita ada orang Kristen yang
tidak beroleh kesembuhan, antara lain seperti Trofimus, Timotius dan Paulus.
Ketiga orang tersebut adalah saudara yang paling baik dalam Perjanjian Baru.
Paulus meninggalkan Trofimus dalam keadaan sakit di Miletus; ia tak
berdaya, apa-apa (II Tim. 4:20). Ketika Timotius sakit, pencernaannya terganggu,
Paulus menganjurinya meminum sedikit anggur, sebab ia, tidak beroleh kesembuhan
(I Tim. 5:23). Paulus sendiri juga demikian, entah penyakit mata, atau penyakit
lainnya, membuatnya sangat menderita, dan membuatnya cukup lemah. Jika tidak,
tentu ia tidak mengaku ada sebuah duri yang selalu menusuk tubuhnya (II
Kor.12:7). Jangankan duri yang besar, duri yang kecil saja, cukup membuat orang
resah; jangankan menusuk tubuh, menusuk jari tangan saja cukup membuat kita
menderita. Duri yang menusuk Paulus bukan duri kecil, melainkan duri besar, yang
menyebabkan seluruh tubuhnya sengsara. Ia menyebutnya dengan istilah kelemahan,
karena itu kita dapat membayangkan betapa penyakitnya menyusahkan tubuhnya.
Walau ketiga saudara tersebut adalah saudara-saudara yang paling baik, tetapi
mereka tidak beroleh kesembuhan, mereka tetap menderita penyakit itu.
Jadi kita lihat, penyakit berbeda dengan dosa. Dosa tidak menghasilkan
kekudusan, tetapi penyakit menghasilkan kekudusan. Adalah satu hal yang salah,
jika orang menyamakan dosa dengan penyakit. Memang kedua hal itu ada
persamaannya, tetapi ada juga perbedaannya. Kalau seseorang semakin banyak
berdosa, ia akan semakin menjadi cemar, tetapi bila seseorang semakin banyak
menderita sakit, ia tidak semakin cemar, melainkan semakin dikuduskan. Sebab
dalam penyakit mengandung ganjaran Allah, maka ia dapat melahirkan hasil
ganjaran Allah di atas diri penderitanya. Dalam keadaan demikian, anak-anak
Allah wajib belajar tunduk di bawah tangan Allah yang Mahakuasa.
2. Harus Menerima Pengajaran Dari Penyakit Bila anda
menderita sakit, anda harus belajar melakukan pemberesan satu persatu di hadapan
Allah. Setelah pemberesan itu selesai, kalau ternyata ada tangan Allah yang
bertujuan mencegah anda dari kecongkakan dan kesewenang-wenangan seperti orang
dunia, maka anda harus ingat, anda tidak saja perlu menerima penyakit itu,
bahkan harus pula menerima pengajaran dariNya. Hanya menderita sakit saja tidak
berfaedah, yang berfaedah ialah menerima pengajarannya. Bukan penyakitnya yang
dapat menguduskan kita, melainkan menerima pengajarannya baru dapat menguduskan
kita. Kita harus mengetahui, dalam penyakit ini kebaikan dan manfaat apa yang
sebenarnya kita peroleh. Apakah Allah, mengajar aku supaya, rendah hati seperti
halnya Paulus, dan jangan aku sombong karena wahyu yang kudapat, Mungkin pula
Allah menghendaki aku melunakkan watakku yang terlampau keras, sehingga Ia harus
menyuruh penyakit menimpa diriku, dan tidak segera menyembuhkan aku.
Menderita sakit tak berguna, lunak baru berguna. Jika anda tidak berubah
menjadi lunak, walau anda menderita sakit seumur hidup pun sia-sia. Banyak orang
yang menderita sakit seumur hidup, namun hal yang harus dibereskan belum juga
dipelajari. Jika demikian, sungguh ia menderita sakit dengan sia-sia. Boleh jadi
penyakitnya bisa sembuh setelah lewat beberapa saat, tetapi Tuhan tidak
mengendorkan tanganNya, sehingga akan terjadi lagi peristiwa lain di atas
dirinya. Maka begitu kita menderita sakit, wajiblah kita datang ke hadapan Tuhan
dan mendengarkan apa yang hendak Tuhan katakan melalui penyakit kita ini.
Seringkali kita menyadari adanya ganjaran Tuhan. Ada orang yang
menerima ganjaran Allah khusus meIalui penyakit, dan Allah khusus menjamah titik
kesulitannya yang tertentu.
3. Jangan Mengira Penyakit Sebagai Sesuatu yang Menakutkan
Jangan sekali-kali kita mengira penyakit sebagai sesuatu yang menakutkan, sebab
pisau ini bukan berada di tangan orang lain. Kalau seorang saudara mencukur
kita, sekalipun dengan sebilah pisau besar, kita tidak merasa takut. Tetapi
jika yang mencukur kita itu seteru kita, barulah menakutkan. Kita harus tanya,
pisau ini di tangan siapa? Kalau aku bermusuhan dengan seorang dokter yang akan
membedahku, patutlah aku merasa takut. Namun jika pisau itu berada di tangan
seorang saudara, aku tak perlu takut. Anda harus ingat, penyakit berada di
tangan Allah. Banyak saudara saudari yang kalau menderita sakit begitu
mencemaskan kesehatan dirinya, seolah-olah penyakitnya berada di tangan seteru.
Itu tidak pada tempatnya.
Allah telah mengukur setiap penyakit. Pencipta penyakit itu Iblis. Aku
percaya, bahwa Iblis bisa membuat orang menderita sakit. Tetapi berdasarkan
kitab Ayub, kita tahu penyakit itu sudah diukur dan dibatasi oleh Allah. Kitab
tersebut jelas menerangkan kepada kita, bahwa Iblis tidak berdaya membuat orang
sakit tanpa melalui persetujuan Allah. Tanpa pembatasan Allah, Iblis tidak
mungkin menyuruh anda menderita sakit. Di sini terdapat persetujuan dan
pembatasan Allah. Dari kisah Ayub, kita nampak Allah menyetujui ia menderita
sakit, namun tidak menyetujui Iblis merenggut nyawanya. Itulah sebabnya, tiap
kali penyakit menimpa diri kita, janganlah begitu putus-asa atau begitu cemas,
lalu mengharuskan pasti sembuh. Jangan pula mengira bila penyakitnya
berlarut-larut, maka takut kalau-kalau meninggal dunia.
Camkanlah, penyakit berada di tangan Allah, Ia telah mengukur dan
membatasinya. Setelah penuh ujian Ayub, penyakitnya pun lenyaplah; sebab
penyakitnya telah menggenapkan kehendak Allah di atas dirinya. Dari kisah Ayub
ini kita lihat, bahwa penanggulangan Allah ada kesudahannya (Yak.5:11). Namun
sayang sekali, banyak orang yang menderita sakit tanpa kesudahan, yakni tanpa
meraih pelajaran apa-apa. Setiap penyakit berada di tangan Tuhan dan adalah
pemberian Tuhan. Seringkali asalkan kita mengaku dosa, bereslah semua penyakit
itu.
4. Dalam Menderita Sakit Harus Mempelajari Pelajaran Tuhan
membiarkan banyak penyakit ada dalam tubuh kita, agar kita dapat mempelajari
pelajaran. Semakin dini pelajaran itu kita pelajari, semakin dini pula penyakit
itu berlalu. Banyak orang yang terlampau menyayangi diri sendiri. Terus terang
saja kukatakan, kebanyakan orang menderita sakit bukan disebabkan lain hal,
melainkan karena ia menyayangi diri sendiri. Banyak orang yang menyayangi diri
sendiri sedemikian rupa, sehingga ia harus menderita sakit. Bila Tuhan tidak
menyingkirkan motif hati anda yang terlalu menyayangi diri, anda tidak akan
banyak gunanya di tangan Allah. Karena itulah anda wajib belajar menjadi seorang
yang tidak menyayangi diri sendiri.
Ada orang yang sehari suntuk hanya memikirkan dirinya sendiri.
Seolah-olah seluruh dunia hanya untuk dia saja, dan dia seolah-olah yang
menjadi pusat bumi dan inti alam semesta, sehingga seluruh manusia di dunia
harus hidup baginya. Dari pagi sampai petang, ia hanya memikirkan dirinya saja.
Setiap perkara seolah-olah hanya mengitari dia saja. Allah pun hanya untuk
kepentingannya, baik di sorga maupun di bumi. Kristus, gereja, bahkan seluruh
dunia semua hanya untuk dia seorang. Terhadap orang semacam ini, Allah tak
dapat berbuat lain, kecuali menghancurkan intinya itu. Banyak orang yang tak
mudah beroleh kesembuhan disebabkan mereka selalu mengharapkan simpati orang
lain. Aku tahu banyak saudari yang mempunyai pengalaman demikian. Maka
seringkali, bila anda menolak simpati orang, penyakit anda barulah sembuh.
Banyak juga orang yang menderita sakit karena ia sendiri menyukai
penyakit itu. Sebab hanya pada waktu sakitlah ia bisa mendapatkan kasih orang.
Ia tahu jika ia tidak sakit, orang tak dapat mengasihinya, maka ia ingin sering
menderita sakit, supaya sering menerima kasih orang; bahkan ia senang menderita
sakit selamanya, supaya orang lain mengasihinya selamanya pula. Aku sungguh
pernah melihat kenyataan yang sedemikian. Hingga ada orang datang kepadanya dan
menegornya dengan keras mengatakan, bahwa sakitnya justru disebabkan ia
menyayangi diri sendiri; dan karena ia mengharap diperhatikan, ditilik dan
dikasihani orang melalui sakitnya, sebab itulah ia selalu menderita sakit.
Kalau ia mau membereskannya di hadapan Allah, dan menyadari penyebab sakitnya
itu, niscaya ia segera sembuh.
Selama 20 tahun ini aku dapat mencatat ratusan perkara untuk
membuktikan, bahwa kebanyakan orang menderita sakit dikarenakan banyak macam
penyebab. Tetapi jika kita mau membereskannya, begitu kita menemukan penyebabnya
serta menyingkirkannya, kita pasti segera beroleh kesembuhan. Tanpa
menyingkirkan penyebabnya, kesembuhan tak akan kita peroleh.
Aku mengetahui seorang saudara, ia selalu menuntut dan mengharapkan
kasih sayang dari orang lain, ia pun mengharapkan orang lain melihatnya,
berkata-kata baik kepadanya dan memberikan perlakuan ramah yang luar biasa.
Setiap kali ia ditanya oleh siapa pun ia selalu menjawab, kemarin malam ia
begini, pagi tadi ia begitu. Ia dapat mengatakan dengan mendetail badannya demam
berapa menit sekali, kepalanya sakit dari pukul anu sampai pukul anu, jantungnya
berdetak berapa kali dan sebagainya. Ia justru selalu tidak enak badan dalam
suatu periode yang panjang. Ia pun selalu menceritakan hal itu kepada orang
lain, agar mendapat simpati yang lembut dari orang lain. Jika anda berdialog
dengannya, ia tak mengatakan yang lain kecuali menceritakan tentang penderitaan
sakitnya yang panjang itu. Ia sendiri merasa aneh, dan terus bertanya, mengapa
sakitnya tidak beroleh kesembuhan.
Kukatakan pada kalian, untuk berkata secara terus terang bukan suatu
perkara yang gampang, dan hal itu perlu membayar harga. Pada suatu hari, batinku
telah beroleh kekuatan, aku lalu berani berkata kepadanya, bahwa penderitaannya
yang berlarut-larut itu tak lain hanya disebabkan ia sendiri menyukai penyakitnya
itu. Ia menyangkal. Kukatakan lagi kepadanya bahwa ia takut kalau sakitnya
terlepas dari dirinya, karena memang ia senang sakit. Ia tetap menyangkal
tuduhanku. Aku berkata lagi, ia mendambakan simpati, kasih sayang dan perhatian
orang lain; karena tak ada jalan lain untuk memperolehnya, maka ia ingin
memperolehnya melalui menderita sakit. Akhirnya kukatakan dengan tegas, jika ia
di hadapan Allah ingin beroleh kesembuhan, ia tak dapat tidak membuang sikapnya
yang demikian itu, ia harus selalu menjawab, "Baik!" jika ditanya orang. Bila
orang bertanya bagaimana keadaanya kemarin malam, ia harus berkata, "Baik!" Coba
lihat apakah akibatnya. Ia lalu berkata, "Aku ini jujur, aku tak dapat berdusta.
Aku sungguh merasa tidak enak. Jika kemarin malam aku sungguh tidak enak badan,
masakan aku mengatakan baik?" Aku lalu berkata, "Baiklah kubacakan beberapa ayat
untukmu, anak perempuan Sunem telah meninggal di atas tempat tidur, perempuan
itu lalu mencari Elisa, Elisa bertanya padanya, selamatkah engkau, selamatkah
anakmu? Ia menjawab, Selamat! Padahal anaknya sudah mati dan dibaringkan di
tempat tidur. Mengapa ia mengatakan selamat? Karena ia percaya. Ia percaya bahwa
Allah dapat menyuruh anaknya hidup lagi. Hari ini anda pun dapat percaya. Jika
ada orang bertanya apakah anda kemarin baik? Anda harus menjawab, ya baik!
Sekalipun sudah mati, baik juga. Anda harus percaya, baik." Setelah ia mendengar
penjelasanku, ia pun tak dapat mengatakan apa-apa lagi. Setelah ia membuang
sikap yang menyayangi diri sendiri dan menolak simpati serta hiburan dari orang,
penyakitnya pun tersingkir dari tubuhnya.
Kita harus menyadari, banyak penyakit yang penyebabnya dari dalam, ada
pula yang dari luar. Maka kita harus belajar percaya di hadapan Allah, yaitu
penyakit kita pasti akan berakhir bila tujuan Allah telah tercapai. Apabila di
pihak rohaninya Allah dapat mencapai tujuanNya di atas diri anda, niscaya sakit
anda pun akan berIalu.
5. Selain Sedikit Pengecualian, Biasanya Harus Ditemukan Penyebabnya
Lalu Mohon Penyembuhan Misalnya Paulus, Timotius dan Trofimus. Aku
percaya ketika Paulus menulis surat Timotius yang kedua, penyakit mereka masih
tetap berlangsung. Tetapi mereka mengakui, bahwa hal itu berfaedah bagi
pekerjaan mereka dan demi untuk kemuliaan Allah di atas tubuh mereka, maka
mereka belajar memelihara diri sendiri, tidak berani sembarangan. Paulus
menasihati Timotius agar ia meminum sedikit anggur, yaitu agar ia menaruh
perhatian dalam hal makanan. Namun di pihak lain, untuk melayani Allah, mereka
tak dapat tidak bekerja. Tentu saja Tuhan mengarunianya, sehingga ia dapat
mengatasi kelemahannya. Paulus sendiri tetap bekerja walaupun menderita sakit.
Kalau kita membaca suratnya, kukira pekerjaan Paulus dapat menandingi pekerjaan
yang dilakukan oleh sepuluh orang biasa. Allah memakai kelemahannya; dan ia
dapat mengalahkan sepuluh orang yang kuat. Walau tubuhnya lemah, Allah memberi
kekuatan dan hayat, agar ia dapat bekerja bagiNya.
Hanya saja, contoh seperti Paulus, Timotius dan Trofimus dalam Alkitab
tidak banyak. Hanya orang yang akan dipakai secara khusus; atau yang akan dibina
Allah secara khusus, baru mengalami keadaan yang sedemikian. Lain halnya dengan
saudara saudari biasa, terutama mereka yang baru beriman. Jika menderita sakit,
harus memeriksa diri, apakah ada dosa; jika ada, harus mengaku dan
membereskannya satu persatu, dengan demikian mereka akan mudah sekali beroleh
kesembuhan.
Akhirnya aku harap kalian nampak di hadapan Tuhan, yakni adakalanya
iblis mendadak menyerang kita, atau karena kita melanggar hukum alam; jadi belum
tentu dikarenakan hal rohani. Semua itu boleh dibawa ke hadapan Tuhan. Jika itu
benar serangan iblis, kita harus menghardiknya demi nama Tuhan dan ia akan
segera lenyap. Ada seorang saudari mendadak menderita sakit, panasnya tidak mau
turun, tidak ada penyebab apa pun, akhirnya ditemukan bahwa hal itu berasal dari
serangan iblis; dan setelah ia menghardiknya demi nama Tuhan, ia segera sembuh.
Adakalanya karena anda melanggar hukum alam, belum tentu mengandung
penyebab rohani. Misalkan anda meletakkan tangan anda di atas api, pasti tangan
anda akan terbakar. Maka anda wajib memelihara diri sendiri sebaik-baiknya,
jangan sesudah menderita sakit baru mengaku dosa. Memang, jika anda mengaku
dosa, pasti beroleh pengampunan, tetapi jangan setelah berbuat dosa hingga tubuh
menderita sakit, baru mengharapkan kesembuhan Allah. Dalam hidup sehari-hari,
kita harus memelihara tubuh kita sebagaimana mestinya.
V. JALAN MOHON KESEMBUHAN --- TIGA PERKATAAN DALAM PERJANJIAN
BARU Aku rasa, kita perlu membahas sedikit tentang jalan untuk
memperoleh kesembuhan.
Dalam Injil Markus tercantum tiga perkataan (Aku sendiri telah
mengeluarkan banyak waktu untuk mempelajarinya, dan ketiga perkataan tersebut
sangat berfaedah bagi diriku). Pertama ialah masalah kekuatan Tuhan kedua ialah
masalah kehendak Tuhan dan ketiga ialah masalah perbuatan Tuhan.
1. Masalah Kekuatan Tuhan --- Allah Bisa Ketika pada satu
waktu aku, menderita sakit, aku membaca Injil Markus, ternyata ada beberapa
perkataan sangat berfaedah bagiku. Yang pertama tercantum dalam Markus 9:21-23
--- "Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu: Sudah berapa lama ia mengalami
ini? Jawabnya: Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam
api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat
berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami. Jawab Yesus: katamu, jika
Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!"
Ayah anak itu berkata kepada Tuhan Yesus, "Jika Engkau dapat berbuat
sesuatu, tolonglah kami." Tuhan Yesus Ialu berkata, "Katamu, jika Engkau dapat?"
Mengapa berkata, "Jika Engkau dapat?" Tuhan sengaja mengulangi perkataan ayah
itu tadi, kata ayah itu, "Jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami."
Jawab Yesus, "Jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang
percaya." Di sini sebenarnya bukan masalah "jika Engkau dapat", melainkan
masalah percaya atau tidak, sebab tidak ada yang mustahil bagi orang yang
percaya.
Ketika seseorang menderita sakit, lazimnya ia dipenuhi rasa
syak-wasangka, dan meragukan kekuatan Allah; kekuatan bakteri seolah-olah lebih
besar daripada kekuatan Allah. Ketika ujian penyakit menimpa diri anda, anda
seolah-olah meliliat kuman-kuman itu begitu besar menguasai tubuh anda. Namun
Tuhan menghardik orang yang meragukan kekuatan Allah. Kita jarang melihat Tuhan
memutuskan perkataan orang seperti yang tercatat di sini. Perkataan Tuhan ---
"jika Engkau dapat" seolah-oleh menunjukkan Tuhan telah marah. MaksudNya,
"Mengapa berkata jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang
percaya! Bukan masalah jika Engkau dapat, melainkan engkau percaya atau tidak.
Mengapa kau bertanya kepadaKu dapat atau tidak?" Jadi, ketika anak-anak Allah
menderita sakit, yang pertama harus ia lakukan ialah belajar menengadah kepada
Tuhan dan berkata kepadaNya, "Oh Tuhan, Engkau dapat!"
Kita ingat lagi kisah seorang lumpuh yang disembuhkan Tuhan. (Aku
sangat menyukai perkataan Tuhan, sebab setiap perkataan Tuhan memakai istilah
atau ungkapan yang sangat tepat). Ketika itu Tuhan berkata kepada orang-orang
Farisi, "Manakah lebih mudah, mengatakan: "Dosamu sudah diampuni," atau
mengatakan: "Bangunlah dan berjalanlah" (Mat.9:5). Menurut pikiran orang-orang
Farisi, tentu lebih mudah mengatakan "Dosamu sudah diampuni." Sebab boleh saja
orang mengatakan begitu, toh hal itu tak dapat dilihat oleh siapa pun. Tetapi,
jika ingin mengatakan, "Bangunlah dan berjalanlah", tidak mudah. Namun dari
perkataan Tuhan terbukti bahwa Ia dapat mengampuni dosa, dan dapat pula
menyembuhan sakit; kedua-duanya sama mudahnya. Itulah sebabnya Tuhan tidak
berkata manakah yang lebih sukar, melainkan manakah yang lebih mudah.
Dalam pandangan Tuhan, keduanya sama mudahnya. Baik mengampuni dosa
maupun menyuruh orang lumpuh bangun dan berjalan, bagi Tuhan semuanya mudah;
karena itu Ia berkata, manakah yang lebih mudah. Sebetulnya kedua pertanyaan
yang Tuhan ajukan kepada orang Farisi ialah manakah yang lebih sukar, sebab
menurut pandangan mereka mengampuni dosa itu sukar, demikian pula menyembuhkan
orang lumpuh. Keduanya itu sama sukarnya. Hanya saja, ingin membandingkan mana
yang lebih sukar. Tetapi Tuhan bertanya, "Manakah yang lebih mudah?"
2. Masalah Kehendak Tuhan --- Allah Mau Kita percaya bahwa
Allah memang dapat, tetapi bagaimana kita dapat mengetahui Ia mau atau sudi
menyembuhkan kita? Kita tidak mengetahui kehendakNya. Jangan-jangan Tuhan tidak
mau menyembuhkan kita, kalau begitu apa daya? Ini merupakan kasus lain. Mari
kita baca Markus 1:41 "Maka tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan, lalu Ia
mengulurkan tanganNya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya, Aku mau,
jadilah engkau tahir." Maka masalah yang kedua, yaitu ketika seorang menderita
sakit, tidak cukup jika ia hanya belajar mengetahui kekuatan Allah, ia harus
pula belajar mengetahui kemauan Allah, barulah berguna. Betapapun besarnya
kekuatan Allah, apakah gunanya jika Ia tidak mau menyembuhkan kita? Problem yang
terdapat di sini bukan dapat tidaknya Allah menyembuhkan kita, melainkan mau
tidaknya Ia menyembuhkan kita. Seandainya Allah tidak mau menyembuhkan penyakit
kita, walau kekuatanNya sangat besar, tidaklah berarti apa-apa bagi kita. Maka
masalah pertama yang harus kita hadapi ialah "Allah dapat", sedang yang kedua
ialah "Allah mau."
Ayat tadi memperlihatkan kepada kita, ketika Tuhan berhadapan dengan
orang yang menderita sakit kusta, Ia berkata, "Aku mau". Dalam dunia tiada
penyakit lain yang lebih kotor daripada penyakit kusta. Segala penyakit dalam
Perjanjian Lama hanya dianggap penyakit saja, tetapi penyakit kusta diangap
suatu kenajisan. Sebab kapan anda terjamah orang sakit kusta, anda akan
ketularan penyakit tersebut. Dari segi manusiawi, jika Tuhan Yesus menjamah
orang itu, Ia pun akan ketularan. Tetapi kasih Tuhan sangatlah besar, maka Ia
berkata, "Aku mau!" Setelah Tuhan menjamahnya, ia pun tahirlah. Kalau Tuhan mau
menahirkan orang yang menderita sakit kusta, masakan Tuhan tidak mau
menyembuhkan penyakit kita? Karenanya, anda harus dapat berkata pada Tuhan,
"Allah dapat" "Allah mau". Hanya mengetahui Allah dapat saja tidak cukup, harus
pula mengetahui Allah mau.
3. Masalah Perbuatan Tuhan --- Allah Telah Walau Allah mau
menyembuhkan, jika Ia tidak berbuat sesuatu, tetaplah sia-sia. Untuk ini kita
harus membaca Markus 11:23-24 --- "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya
barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam
laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya bahwa apa yang dikatakannya itu
akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Karena itu Aku berkata
kepadamu: Apa saja (termasuk kesembuhan) yang kamu minta dan doakan, percayalah
bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." Ayat-ayat
tersebut menampilkan masalah "Allah telah".
Apakah artinya percaya? Percaya tidak hanya berarti percaya bahwa Allah
dapat dan Allah mau, tetapi juga percaya bahwa Allah telah melakukan, yakni Allah
telah menggenapkan. Jika anda percaya bahwa anda telah menerima, maka hal itu
akan diberikan kepada anda. Jika anda dapat percaya, anda akan berkeyakinan bahwa
Allah dapat dan mau. Bila anda telah menerima firman Allah, anda tentu dapat
bersyukur kepadaNya, Allah telah menyembuhkan penyakitku, Allah telah melakukan
hal itu! Tetapi banyak orang yang kurang jelas akan ayat-ayat tersebut, sehingga
mereka tak beroleh kesembuhan. Sebab mereka terus mengharap-harapkan kesembuhan.
Mengharapkan atau pengharapan selalu ditujukan kepada sesuatu yang akan datang,
tetapi percaya itulah perkara yang telah lampau. Kalau seorang berkata, "Aku
percaya bahwa Allah pasti akan menyembuhkan aku", itu kurang positif, sebab
kesembuhan yang demikian mungkin baru dapat ia terima dua puluh atau seratus
tahun kemudian. Setiap iman yang sejati ialah yang dapat bangkit dan berkata,
"Syukur kepada Allah, Ia telah menyembuhkan penyakitku, dan aku telah
memperoleh kesembuhan! Syukur kepada Allah, aku telah ditahirkan! Syukur kepada
Allah, aku sudah sehat!" Maka iman yang sempurna tidak saja percaya Allah dapat
dan Allah mau, bahkan percaya Allah telah melakukan.
Ya, Allah telah melakukan! Allah telah mengabulkan doaku; Allah telah
menyembuhkan aku melalui sabdaNya; Allah telah merampungkannya! Percayalah
bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. Iman
kebanyakan orang ialah iman yang "ingin" menerima, karenanya mereka selalu tidak
mendapatkan. Kita perlu memiliki iman yang percaya "telah" menerima. Iman yang
sejati adalah yang mengatakan "telah", bukan "ingin" atau "akan'.
Akhirnya aku mengambil satu perumpamaan yang sederhana: Misalkan
setelah seseorang mendengar Injil dan mengerti serta bertobat, ia lalu mengaku
telah percaya Tuhan. Kemudian kita bertanya kepadanya, "Apakah anda telah
beroleh selamat?" Ia menjawab, "Ya, aku akan beroleh selamat." Kita mengerti
bahwa jawabannya itu tidak benar. Sekalipun ia menjawab, "Aku pasti
diselamatkan", tetap tidak benar. Kita bertanya lagi, "Apakah anda benar-benar
pasti beroleh selamat?" Ia menyahut, "Ya, kukira aku pasti bisa beroleh
selamat.' Jawaban demikian tetap terasa tidak benar. Baik ia mengatakan, "akan
beroleh selamat", "bisa beroleh selamat" atau "pasti beroleh selamat", semuanya
itu mengandung kesan yang kurang menyakinkan. Namun, bila ia menjawab, "Ya, aku
sudah beroleh selamat!" Barulah kita mengetahui bahwa ia benar-benar telah
percaya. Orang yang telah percaya, berarti telah beroleh selamat. Begitu pula,
setiap iman merupakan perkara yang telah lampau, prinsipnya sama dengan iman
yang ditujukan untuk beroleh selamat. Bukan setelah kita percaya penyakit kita
pasti disembuhkan; itu belum berarti percaya. Melainkan begitu kita percaya,
kita dapat berkata, "Syukur kepada Allah, aku sudah sembuh!"
Ketiga perkara tersebut hendaklah kita pegang teguh --- Allah dapat,
Allah mau dan Allah telah. Bila iman kita sudah menjamah fakta "Allah telah",
niscayalah penyakit kita akan segera berlalu.
|